Langsung ke konten utama

|cerpen| (SEK MUMETZZ)

Karina Maharani, seorang gadis bertubuh mungil yang mengenakan hoodie putih gading, mengetuk meja dengan tidak tenang. Sesekali ia menengok secara bergantian pada dinding kaca dan arloji Alexandre Christie berwarna silver black yang melingkar manis di lengan kirinya. Jarum jam menunjukkan waktu pukul setengah dua belas siang. Ia mendengus kesal.

Tak lama kemudian, sebuah Honda Civic perak metalik keluaran terbaru berhenti tepat di depan gerai Excelso tempat Karina menunggu. Gadis itu lantas bergegas mengambil tas dan menyampirkannya di bahu, tanpa menyentuh sedikitpun earl grey yang sedari tadi ia pesan.

Pintu sebelah kiri mobil Dimas terbuka. Belum sampai kursi penumpang itu diduduki, Karina bersungut-sungut.

"Lama banget, sih? Pasti kamu mabar dulu," tudingnya pada Dimas Pangestu, pemuda di balik kemudi.

"Astaga! Enggak, Rin," sergah Dimas. Ia beralasan, "Kamu dadakan banget sih, ngajak nontonnya. Tadi macet, tau. Sekarang kan weekend."

Dimas menghidupkan mesin mobilnya, melirik spion, lalu melajukan kendaraan tersebut.

"Ya kalau tau macet kenapa nggak naik motor?" Karina menatap lurus ke depan, enggan menoleh pada laki-laki berkulit putih yang dibalut dengan setelan kemeja hitam polos dan celana jeans berwarna senada. Terlihat sangat kontras dengan warna kulitnya.

"Dih, emangnya kamu mau panas-panasan? Udah lah nggak usah bawel, Pendek." Dimas melirik ke yang lebih mungil sebentar, ia tersenyum tipis sebelum kembali menatap pada ruas-ruas jalan.

"Heh! Tinggiku tuh masih rata-rata orang Indonesia, ya. Kamu tuh yang raksasa."

"Iya deh, terserah."

Akhirnya, pemuda Pangestu itu mengalah, berdebat dengan Karina tidak akan ada habisnya. Sepasang kekasih itu terdiam, masing-masing merasa lelah dengan perdebatan yang konyol. Di bawah terik mentari, kendaraan beroda empat tersebut melaju dengan keheningan di dalamnya, menyusuri jalanan ibukota.

***


Komentar

Postingan populer dari blog ini

|cerpen| Diary Tentangmu

Dear Diary [2013] Hello diary.. Namaku Kinar. Aku akan bercerita tentang my first love . Septian, aku mengenalnya kala waktu aku masih kelas 2 SMP. Ceritanya begini.. Pertama kali aku memasuki kelas 2 SMP , aku menyukai seseorang—sebut saja Hasan. Beberapa hari berlalu, tapi aku masih belum terlalu mengenal teman-teman baruku. Tapi yang jelas kuketahui saat itu, ternyata Hasan itu agak kayak cewek gitu.. akhirnya aku move on . Di hari berikutnya , aku menyukai Tora. Lama-kelamaan, Tora menyadari. Akhirnya dia mempunyai kekasih . Dan berujung aku move on lagi. Tapi pada suatu hari saat belum bisa move on dari Tora, ada temanku cewek bernama Deby yang ja h il. Deby menaruh tempat pensilku di atas ventilasi udara, aku tau, tapi aku diam saja [lagi m ales hehe ]. Nah, ada temanku cowok— namanya Septian, tapi saat itu aku tidak tahu namanya—yang janggal. Waktu itu lagi istirahat, aku di kelas ngerjain sesuatu di mejaku ber sama sahabatku. Lalu tiba-tiba tempat pensilku jatuh ...

|cerpen| Dua Matahari

             Pagi itu, sang mentari tampak malu-malu menampakkan dirinya. Jarak antara sekolah dan rumahku cukup dekat, jadi aku cukup berjalan kaki sembari bersiul kecil untuk sampai ke sekolah. Bukan apa-apa, aku hanya senang karena tahun ajaran baru telah dimulai. Apalagi ketika mengetahui bahwa sebagian besar teman-teman semasa SMP diterima juga di SMA favorit kawasan itu. Saat SMP, aku membuat persahabatan. Kami beranggotakan lima orang, yaitu aku, Tiwi, Mia, Santi, dan Wedy. Tetapi sayangnya, Santi dan Wedy memutuskan untuk melanjutkan sekolah di tempat lain.              Sesampainya di kelas, aku langsung bergabung bersama teman-teman baruku dan pelajaran pun dimulai. Hari demi hari berlalu. Minggu demi minggu berganti. Dan pada suatu hari, hari Jumat sepulang sekolah, aku mampir ke kantin bersama salah satu teman sekelasku bernama Manda dan salah satu teman SMP-ku yang bernama Fitri. Manda dan Fitri wajar ...

|cerpen| Kejutan yang Berlipat Ganda

       Hari ini adalah hari pembagian raport. Mama memintaku untuk menemaninya ke sekolahku.  Karena penasaran, aku intip raportku dan.. WHAT?! APA INI? Kenapa nilaiku banyak yang dapat C?? Ini sungguh tidak masuk akal! Apa jadinya orang tuaku kalau tahu hal ini? Hiks. *** “Plak!” satu serangan. Telapak tanganku mengusap pipiku yang terkena tamparan. “Cukup tamparan saja. Mama gak mood buat marah-marah. Percuma. Toh, sudah terjadi. Sebagai gantinya, Mama akan ngebatalin reservasi vilanya. Jadi kamu nggak perlu repot ngurus ini-itu. Bilangin ke temen-temenmu, liburan di rumah aja, belajar!” kata Mama dengan tegas. “Gak bisa gitu dong, Ma! Aku kan udah janji ke mereka..” “BATALIN, HELENA!” Tersentak. Tanpa sadar air mataku keluar. Secepatnya aku berlari dari ruang tamu. Aku masuk ke kamar. Pintu kukunci dengan rapat. Aku jatuhkan diriku di atas kasur, kutarik selimut sampai menutupi kepalaku. Lalu aku menangis di dalamnya. *** Uh, ja...