Karina Maharani, seorang gadis bertubuh mungil yang mengenakan hoodie putih gading, mengetuk meja dengan tidak tenang. Sesekali ia menengok secara bergantian pada dinding kaca dan arloji Alexandre Christie berwarna silver black yang melingkar manis di lengan kirinya. Jarum jam menunjukkan waktu pukul setengah dua belas siang. Ia mendengus kesal.
Tak lama kemudian, sebuah Honda Civic perak metalik keluaran terbaru berhenti tepat di depan gerai Excelso tempat Karina menunggu. Gadis itu lantas bergegas mengambil tas dan menyampirkannya di bahu, tanpa menyentuh sedikitpun earl grey yang sedari tadi ia pesan.
Pintu sebelah kiri mobil Dimas terbuka. Belum sampai kursi penumpang itu diduduki, Karina bersungut-sungut.
"Lama banget, sih? Pasti kamu mabar dulu," tudingnya pada Dimas Pangestu, pemuda di balik kemudi.
"Astaga! Enggak, Rin," sergah Dimas. Ia beralasan, "Kamu dadakan banget sih, ngajak nontonnya. Tadi macet, tau. Sekarang kan weekend."
Dimas menghidupkan mesin mobilnya, melirik spion, lalu melajukan kendaraan tersebut.
"Ya kalau tau macet kenapa nggak naik motor?" Karina menatap lurus ke depan, enggan menoleh pada laki-laki berkulit putih yang dibalut dengan setelan kemeja hitam polos dan celana jeans berwarna senada. Terlihat sangat kontras dengan warna kulitnya.
"Dih, emangnya kamu mau panas-panasan? Udah lah nggak usah bawel, Pendek." Dimas melirik ke yang lebih mungil sebentar, ia tersenyum tipis sebelum kembali menatap pada ruas-ruas jalan.
"Heh! Tinggiku tuh masih rata-rata orang Indonesia, ya. Kamu tuh yang raksasa."
"Iya deh, terserah."
Akhirnya, pemuda Pangestu itu mengalah, berdebat dengan Karina tidak akan ada habisnya. Sepasang kekasih itu terdiam, masing-masing merasa lelah dengan perdebatan yang konyol. Di bawah terik mentari, kendaraan beroda empat tersebut melaju dengan keheningan di dalamnya, menyusuri jalanan ibukota.
***
Komentar
Posting Komentar