Langsung ke konten utama

|cerpen| Diary Tentangmu


Dear Diary

[2013] Hello diary..

Namaku Kinar. Aku akan bercerita tentang my first love. Septian, aku mengenalnya kala waktu aku masih kelas 2 SMP. Ceritanya begini..
Pertama kali aku memasuki kelas 2 SMP, aku menyukai seseorang—sebut saja Hasan. Beberapa hari berlalu, tapi aku masih belum terlalu mengenal teman-teman baruku. Tapi yang jelas kuketahui saat itu, ternyata Hasan itu agak kayak cewek gitu.. akhirnya aku move on. Di hari berikutnya, aku menyukai Tora. Lama-kelamaan, Tora menyadari. Akhirnya dia mempunyai kekasih. Dan berujung aku move on lagi.
Tapi pada suatu hari saat belum bisa move on dari Tora, ada temanku cewek bernama Deby yang jahil. Deby menaruh tempat pensilku di atas ventilasi udara, aku tau, tapi aku diam saja [lagi males hehe]. Nah, ada temanku cowok—namanya Septian, tapi saat itu aku tidak tahu namanya—yang janggal. Waktu itu lagi istirahat, aku di kelas ngerjain sesuatu di mejaku bersama sahabatku. Lalu tiba-tiba tempat pensilku jatuh di mejaku.
'Siapa yang melempar kotak pensilku?' pikirku.
Kemudian aku bertanya pada sahabatku. Dia menjawab sambil menunjuk seorang laki-laki berjalan menjauhi kami, dan dialah Septian.
Saat itu aku bertanya dalam hati, 'Kenapa bukan Tora saja yang mengambilkan?'.
Beberapa hari kemudian, Tora memiliki kekasih. Aku ingin segera move on, tapi susah kalau tidak ada incaran baru. Lalu terlintas dalam benakku sosok Septian. Pada akhirnya, aku jatuh cinta.
Berminggu-minggu terlewatkan. Hari-hariku terasa indah. Teman-teman sekelas tahu kalau aku menyukai Septian, termasuk dia sendiri [OMG]. Dikarenakan doi tau kalau aku suka padanya, kami pun jarang berbicara [takutnya dicie-cie sama temen sekelas dan akunya juga malu].
Bulan Desember sebelum liburan akhir semester, sekolah kami mengadakan belajar di luar sekolah (outdoor). Untuk kelas kami, ODnya ke kota Malang. Kami pergi naik bus. Untuk bus pertama, diisi oleh anak kelasku dan kelas lain yang bernomor absen awal. Bus kedua, absen agak tengah. Bus ketiga absen pertengahan. Bus keempat untuk absen agak akhir. Dan yang terakhir, bus kelima untuk absen akhir. Seharusnya kalau dilihat dari data nomor absen yang dibacakan oleh guruku tersebut, aku duduk di bus nomor 3, bersama teman-temanku absen pertengahan lainnya. Tapi nyatanya, aku terlempar jauh hingga ke bus 5, bersama Septian, hihihi senangnya. Di bis, aku duduk bertiga bareng Yulia dan Sella. Sella ini berperan sangat penting, kami juga sahabatan. Dia mencoba berbagai cara agar aku bisa dekat sama Septian. Teman yang baik, bukan? Btw, waktu mau pulang OD, Sella minta nomer HPnya Septian. Terus nomer itu dikirim ke aku lewat SMS. Sella baik ya, kan??
Lalu, pada bulan Januari [seingatku], aku dan beberapa temen cewek sekelas bermain Truth or Dare. Ada temanku—sebut saja Mawar—kena TOD itu.
Dia memilih Truth dan diberi pertanyaan, "Siapa orang yang kamu sukai di kelas?".
Guess what? Dia menjawab, "Maaf yaa Kin.."
Sontak aku merasa aneh.
Mawar melanjutkan, "Maaf yaa Kin, aku suka Sep…" [tak sanggup mendengar kelanjutannya dan sudah paham]
Akhirnya, kami bersaing secara sehat. Aku tahu Mawar sering mengirim pesan singkat ke Sean (panggilanku untuk Septian), aku juga ingin merasakan SMS-an dengan orang yang kusukai [waktu itu masih zamannya SMSan] tapi aku terlalu malu untuk melakukannya. Aku hanya bisa curhat ke teman SDnya, yang juga teman sekelasku dan Sean saat kelas 8.
Bulan demi bulan berlalu. Hingga menjelang penghujung April, pada tanggal 23, hari Rabu yang sangat mengagetkanku.. Sepulang sekolah, aku main ke rumah Mawar. Kami berjalan kaki sampai lampu merah, setelah itu naik ojek gonceng tiga (Mawar di tengah, aku paling belakang). Saat siap-siap tancap gas, aku menoleh ke samping kiri (aku duduk miring) dan kulihat Sean berlari-lari kecil. Kemudian ojek yang kami tumpangi berjalan, Sean menghentikan langkahnya.
Sampai di rumah Mawar, kami main-main apa ya? Lupa aku hehe.. tapi yang paling kuingat, kami nyanyi lagunya Yofie n Nuno yang berjudul Dia Milikku. Kami saling bergantian balas lirik (yah begitulah, maaf kalo ga paham. Aku bingung njelasinnya wkwk). Nah pas lagunya habis, aku yang terakhir nyanyi. Terus Mawar kaya' ga terima gitu jadi dia minta diulang, lah aku gatau ya liriknya di-pas apa gimana jadinya dia yang terakhir nyanyi. Terus diulang lagi, tetep dia yang terakhir.
Akhirnya aku pulang. Malamnya, aku baca novel. Karena besok ga ada pelajaran, cuma jalan santai. Asyik-asyiknya baca, HPku bergetar. SMS masuk dari Sella. Seperti biasa kalau SMS, Sella selalu curhat tentang kisah percintaannya. Berikutnya, getaran pesan masuk terus kuterima. Hingga ada SMS masuk dari nomor yang tak terdaftar di phonebook. Meski tak kusimpan, aku kenal dan hafal nomor tersebut, bahkan hafal di luar kepala! Pemilik nomor itu adalah Sean.
Kekagetanku terus berlanjut selama aku SMS-an dengan Sean. Dia membalas perasaanku. Sungguh seperti ada taman bunga dalam hatiku dan kupu-kupu menari-nari dalam perut. Tak bisa kubayangkan, tak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan perasaan bahagiaku. Dan sialnya, di saat seperti itu aku malah memikirkan perasaan Mawar. Aku sangat bingung dan gundah. Logikaku berkata, "Terimalah Sean,  jangan pikirkan Mawar" tapi hatiku berkata, "Kasihan Mawar". Kemudian, aku putuskan. Menolak.
Keesokan paginya, kuceritakan pada Sella. Tidak terduga, Sella frontal. Teman-teman sekelas seperti menerima broadcast dengan cepatnya. Kurasakan tatapan Mawar, dia hancur! Aku tak tau harus berbuat apa, linglung. Tiba-tiba Mawar pergi ke luar kelas, sendirian. Aku hanya berdiam diri. Berjam-jam berlalu, bel pulang berbunyi. Aku ke luar kelas, dan berpapasan dengan Mawar di tangga. Dia menghentikanku untuk mengembalikan novelku. Aku menerimanya dengan kagok. Setelah itu ia pergi.
Besoknya, aku tak menyangka Mawar bersikap biasa padaku. Seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya. Aku pikir dia akan bersikap dingin, tapi ternyata tidak.  Dengan tenang, dia bertanya apa yang terjadi kemarin. Aku menjawab dengan hati-hati. Ia tetap tenang. Dia berkata bahwa dia sakit hati. Kalau dipikir-pikir, kami bertiga sama-sama sakit hati. Mawar sakit hati karena perasaannya bertepuk sebelah tangan, aku sakit hati karena gagal pacaran dengan Sean, dan Sean juga tidak jadi pacaran denganku. Huft. Lalu kami semua bersikap seperti biasa. Fokus sekolah saja.



Dear Diary II

[2014] Masih tentang Sean, by Kinar~

Ah, tak terasa hari-hari berlalu begitu cepatnya, guys. Sekarang aku sudah menduduki kelas 9. Murid-murid diacak lagi. Aku tidak lagi sekelas dengan Sean, tetapi kelas kami bertetangga. Sean sekelas dengan Wulan, temanku SD. Aku sekelas dengan Mawar lagi. Tapi itu tak masalah, karena kami berteman baik.
Hari-hari berjalan seperti biasa. Hari yang menyenangkan, bagiku. Tentu saja, karena meski sudah beda kelas, Sean selalu ‘menungguku’ untuk ‘pulbar’ kalau kata anak-anak zaman sekarang. Yah.. meski bukan bener-bener pulang bareng sih. Karena kenyataannya, kami memang pulang di waktu yang sama, tetapi dengan teman kami masing-masing. Sean selalu berjalan di belakangku, kemudian kami menaiki angkutan umum bersama-sama.
            Tetapi sepertinya tidak untuk hari ini. Pulang sekolah, aku melihatmu bersama teman-temanmu berdiri di gerbang. Tapi tak ada reaksi apa-apa darimu. Aku terus berjalan ke luar, lalu saat aku menoleh, kau tetap berdiri di sana. Mungkinkah sedang menunggu seseorang? Tapi.. siapa?
            Pertanyaan itu terjawab sudah. Seanku telah berpaling, sudah kuduga. Sean menjalin hubungan asmara dengan junior. Aku harus cari tau. Aku menyuruh Wulan untuk memata-matai. Beruntungnya, koneksi Wulan luar biasa cepat. Adek kelas itu masih kelas 7, siswi kelas unggulan, bernama Indah. Bersama Mawar, kami berniat menemui Indah.
            Setelah mendapat kontaknya, aku dengan Indah sering chat-an. Bodohnya, aku berkata bahwa aku menyukai cowoknya. Dan beberapa hari berikutnya, Sean seperti menjauhiku.
Aku rasa, pasti si Indah mengatakan hal buruk di belakangku. Tapi dengan begitu aku mendapat keuntungan: mengetahui kebusukannya. Tetapi aku tau, argumenku kurang kena. Aku hanya terus berdoa dan menunggu waktu yang tepat.
Hingga suatu hari, aku menemukan titik pencerahan. Aku temukan suatu bukti di mana Indah dekat dengan cowok lain. Aku sampaikan hal ini pada Wulan, agar dia bisa ‘menyadarkan’ Sean.
            Tapi sayangnya, Sean tak mudah goyah. Malahan, aku semakin dijauhi. Nasib.
            Oh nasib.
 Tapi biarpun begitu, semangatku tak padam. Aku terus mencoba. Tentunya dengan bantuan Mawar dan Wulan.
            Dan akhirnya, mereka putus. SEAN DAN INDAH PUTUS. Oh tidak! How amazing! Secara tak langsung itu berarti Sean percaya padaku. Aku bahagia.




Dear Diary III
[2014-2015] Sean dan…

            Hari yang cerah. Menyenangkan.
Tapi bo’ong. Hahahaha..

Hmm bicara tentang sejak putusnya Sean dengan Indah, mereka kayaknya sekarang sejauh matahari. Aku juga udah ga kontekan lagi sama si Indah. Yah aku seneng-seneng aja sih. Kayaknya aku juga masih ada rasa ke Sean. Untungnya, Mawar udah enggak. Jadi yaa kupikir masih ada kesempatan dong. Ya, nggak?
            Oh ya, meski aku, Mawar, dan Wulan udah kenal masing-masing dari dulu, tapi baru sekarang deh kami meresmikan pertemanan kami. And.. we made a friendship. You can called us: KMW.  Wkwkwk! KMW itu singkatan dari inisial nama kami: Kinar, Mawar, dan Wulan.
            Kami jadi sering keluar bareng, curhat-curhat, nginep-nginepan, dan sejenisnya. Semuanya serba tulus, ga jaim-jaiman. Hingga suatu ketika…
            Wulan ditembak! Sama Sean. Oh yeah plis, kalian pasti tau maksudku, kan? Iya, ‘tembak’ yang itu tuh.. bukan yang bikin orang jadi mati loh ya. Tapi bisa bikin jantungan juga sih wkwk.
Ah udahlah, pokoknya gitu. Hmm.. aku kaget sih, tapi ga heran juga. Secara Wulan kan emang gitu anaknya, nyenengin. Jadi yaa ga kaget.
            Huft.
            Aduh, duh. Sumpah ga enak.
            Ini nyesek. Sumpah. Haha.
            Haah, tapi yaa yaudahlah. Mungkin emang bukan takdirku. Salahku sendiri sih, dulu nolak. Tapi tetep aja.. arrgghh!
            Mungkin ini emang yang terbaik. Bagi kami.
            PING!!! PING!!! PING!!!
            PING!!!
            Suara notif ping BBMku. Berani taruhan, itu notif dari Wulan. Soalnya habis bilang dia ditembak, aku belum jawab chatnya. Dia pasti sekarang panik. Soalnya kan, aku masih suka Sean.  Wulan pasti minta pendapatku, buat nerima atau nolak. Kalo nurutin keegoisanku sih, daritadi setelah baca chat, aku langsung nyuruh dia nolak Sean. Tapi kasihan Sean. Lagian, kalo emang Sean bisa bahagia bersama Wulan, kenapa juga harus ditolak? Masa aku sebegitu jahatnya.
            Tapi tetep aja aku masih ga rela. Duh. Apa aku minta pendapatnya Mawar aja ya? Tapi ga deh. Harus dirahasiakan ini mah. Jadi gimana ya? Aku pengen Sean bahagia. Itu aja sih. Ah yaudahlah.
            “Terima aja, Lan” BBM sent. BBM read.
            “Beneran, Kin? Kamu yakin?”
            “Iya bener”
            “Tapi kamu kan masih suka..”
            “Haha enggak kok, Lan. Aku kayaknya udah move on”. Duh, boong banget.
            “Tapi Mawar..?”
            “Dia juga udah ga ada rasa ke Sean kok”
            “Yaudah deh aku terima, ya? Aku nerima ini karena kamu yang nyuruh loh, Kin. Aku sebenernya ga ada rasa ke Sean kok, beneran deh”
            “Iya iyaa Lan”
            “Ya udah deh. Oh iya, Kin! Blablabla..”

            Kemudian kami terus  chattingan. Hatiku remuk perlahan.

***
            Dan yah, sesuatu yang dirahasiakan, apalagi ke orang terdekat, pastinya bakal ketauan cepet atau lambat. Kalo ga salah, ini terjadi pas aku main ke rumahnya Mawar. Dia akhirnya tau kalo Wulan sama Sean pacaran. Daaan kalian tau reaksinya?

            “Kamu itu gimana sih, Kin?! Kok malah disuruh jadian. Jujur aja deh, kamu masih suka, kan?”
            “Iya, Mawar. Tapi aku pengen Sean bahagia” jawabku pasrah.
            “Kalo dari awal pengen Sean bahagia kenapa dulu malah nolak dia?” tanya Mawar tajam.

            Duh. Tepat sasaran.

            “Yaa aku nggak mau bikin kamu sakit hati” kataku cemas.
            “Tapi sekarang kamu malah biarin mereka jadian. Bikin 2 orang jadi sakit hati! kata Mawar berapi-api.
            “Siapa?” tanyaku.
            “Ya aku sama kamu dong. Siapa lagi?”
            “Jadi sebenernya kamu masih suka?”
            Mawar memalingkan muka sambil berkata, “Sedikit. Mm.. nggak juga, sih. Aku cuma kesel aja”
            “Hahahahahaha” tawaku meledak.
            “Iiih! Kok malah ketawa, sih?”
            “Habisnya.. hidup ini lucu ya”
            “Hahahaha iya juga yaa”
            Kami pun tertawa bersama.
***

            Cukup lama juga Sean dan Wulan pacaran. Dan kayaknya, si Wulan udah jatuh hati ke Sean. Bahkan saat perayaan tahun baru, Sean main ke rumah Wulan. Yaa buat sekedar bakar jagung sekalian liat kembang api dan petasan. Mereka juga sering ke luar bareng. Aku juga sering diajak sih, tapi masih agak kagok kalo ketemu Sean. Jadinya aku pulang duluan.
Dan oh ya, aku gatau gimana awal mulanya nih. Tapi yang jelas, Wulan kayaknya jadi deket sama Indah. Terus Indah juga waktu itu dirawat di rumah sakit. Wulan ngajak aku sama Mawar buat ngejenguk. Aku masih sebel sama dia, jadi aku agak ragu buat ikutan. Tapi entah kenapa si Mawar malah ga keliatan sebel. Mawar bahkan nasihatin aku, ga boleh dendam. Dan akhirnya, aku ikut.
            Awal ketemu, jujur aja kami ngerasa canggung. Indah juga kayaknya kaget dengan kehadiranku dan Mawar. Tapi untunglah lama-kelamaan suasana jadi cair.
***

            Wulan dan Sean putus. Dan kabarnya, Sean lagi deket sama adek kelas beda sekolah. Bahkan Wulan juga, sudah dapet pacar lagi. Aku cuma geleng-geleng liat keduanya. Mereka kok bisa berpaling secepet itu sih? Aku aja dari dulu masih kebayang Sean. Emang dasarnya aku itu tulus dan setia kok yaa hihihi…




Dear Diary IV

[2015] the last chapter: always Sean.

            Lulus SMP yeayy.. Aku lanjut ke SMAN 1, Mawar dan Wulan juga. Banyak juga kok temen SMP yang lanjut ke SMA ini. Kalo Sean.. dia ke SMKN 1.
            Seperti biasa lah yaaa kalo awal masuk sekolah tingkat baru, ada masa orientasi siswa alias MOS. Nah liburan sebelum MOS kali ini bertepatan di bulan Ramadan. Sebelumnya, ada pre-MOS. Jadi, selesai pendaftaran ada hari pre-MOS, hari itu buat persiapan MOS. Benda-benda yang harus disiapin dan dipake waktu MOS, diinfokan hari itu sebelum liburan. Misalnya kartu identitas diri. Id cardnya dari kertas manila, harus berbentuk trapesium dan kertasnya dilaminating. Semuanya dah beres sih, tinggal ngelaminating. Aku siap-siap lalu tancap gas.
            Sesampainya di toko laminating, aku terkejut. Ada Sean, guys!! Dia lagi sama temen-temennya, satu cewek dan satu cowok.
            “Halo Nis,” sapaku ke Nisa, temen ceweknya yang kebetulan temen sekelasku saat kelas 3 SMP.
            “Eh hey, Kin! Maaf lahir dan batin ya”
            “Oh ya Nis. Maaf juga ya” aku menyalami.
            Aku juga menyalami temen cowoknya yang bernama Arif. Sebetulnya aku juga ingin bersalaman dengan Sean. Namun, kuurungkan niat itu karena canggung.
            Seketika suasana menjadi hening dan canggung. Nisa entah berniat menggoda atau tidak, menepuk pundak Sean seraya berkata, “Hey, salaman juga sana”.
            Aku bisa melihat ekspresi Sean yang terlonjak kaget. Kemudian dia menggumam, “Hah? Oh ya..”. Lalu Sean bersalaman denganku. Dan dari belakang Sean, aku melihat Nisa dan Arif tertawa kecil seraya melakukan tos bersama. Mereka memang tahu kalau aku dan Sean sempat saling mencintai. Yah, tak bisa dipungkiri aku merasa senang telah memegang tangan Sean. Makasih yaa Nisa dan Arif JJ
***
            Pre-MOS dan MOS-nya sendiri dipisahkan oleh liburan hari raya Idul Fitri. Liburanku terkesan biasa-biasa saja, sih. Malah aku gabut banget di rumah.
            Hari demi hari berlalu. Cepat banget waktu berputar. Liburanku berakhir. Masa orientasi juga telah aku lalui. Aku sudah resmi menjadi siswi SMA. Memakai seragam putih abu-abu dan menjadi seorang remaja. Masa SMA adalah masa sekolah yang paling indah, katanya. Tapi, aku tidak satu sekolah dengan Sean. Aku sangat rindu dengannya. Akankah masa SMA-ku indah walau tanpa kehadiran Sean di dalamnya?
            Ah, sepertinya aku terlalu pesimis. Tentu saja, dong, aku bisa bahagia tanpa Sean. Aku bisa kok, mendapatkan orang baru yang lebih baik dari Sean. Ini hari Senin. Hari baru di sekolah baru dan mulai berteman dengan orang baru. Semangat, Kin!
            Kriing! Kriing!
            Bel berbunyi. Menandakan pelajaran telah usai. Sehari di kelas baru lumayan juga. Aku bertemu teman-teman baru yang dulunya dari SMP yang berbeda. Cukup menyenangkan. Kurasa masa SMA-ku akan indah seperti yang dikatakan orang-orang. Seperti biasa, aku pulang naik angkutan umum. Saat sedang menunggu angkutan umum lewat, di pinggir jalan raya aku melihat cowok berseragam putih abu-abu mengendarai sepeda motor dari kejauhan melaju dengan kecepatan penuh menuju tempatku berdiri. Sekilas saat melihatnya, ia sangat mirip dengan Sean. Mulai dari helm, jaket yang ia kenakan, bahkan sampai warna tas ransel di balik punggungnya. Aku terus menatap ke arahnya. Mata kami bertemu. Aku sangat yakin 1000% matanya melihatku walaupun wajahnya tertutup kaca helm. Namun saat dia akan lewat di depanku, bola matanya bergerak untuk melihat jalan lagi. Yeah finally, I met you again, Sean. Aku harap semoga kita menemukan kebahagiaan sesuai jalan kita masing-masing.

TAMAT 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

|cerpen| Dua Matahari

             Pagi itu, sang mentari tampak malu-malu menampakkan dirinya. Jarak antara sekolah dan rumahku cukup dekat, jadi aku cukup berjalan kaki sembari bersiul kecil untuk sampai ke sekolah. Bukan apa-apa, aku hanya senang karena tahun ajaran baru telah dimulai. Apalagi ketika mengetahui bahwa sebagian besar teman-teman semasa SMP diterima juga di SMA favorit kawasan itu. Saat SMP, aku membuat persahabatan. Kami beranggotakan lima orang, yaitu aku, Tiwi, Mia, Santi, dan Wedy. Tetapi sayangnya, Santi dan Wedy memutuskan untuk melanjutkan sekolah di tempat lain.              Sesampainya di kelas, aku langsung bergabung bersama teman-teman baruku dan pelajaran pun dimulai. Hari demi hari berlalu. Minggu demi minggu berganti. Dan pada suatu hari, hari Jumat sepulang sekolah, aku mampir ke kantin bersama salah satu teman sekelasku bernama Manda dan salah satu teman SMP-ku yang bernama Fitri. Manda dan Fitri wajar ...

|cerpen| Kejutan yang Berlipat Ganda

       Hari ini adalah hari pembagian raport. Mama memintaku untuk menemaninya ke sekolahku.  Karena penasaran, aku intip raportku dan.. WHAT?! APA INI? Kenapa nilaiku banyak yang dapat C?? Ini sungguh tidak masuk akal! Apa jadinya orang tuaku kalau tahu hal ini? Hiks. *** “Plak!” satu serangan. Telapak tanganku mengusap pipiku yang terkena tamparan. “Cukup tamparan saja. Mama gak mood buat marah-marah. Percuma. Toh, sudah terjadi. Sebagai gantinya, Mama akan ngebatalin reservasi vilanya. Jadi kamu nggak perlu repot ngurus ini-itu. Bilangin ke temen-temenmu, liburan di rumah aja, belajar!” kata Mama dengan tegas. “Gak bisa gitu dong, Ma! Aku kan udah janji ke mereka..” “BATALIN, HELENA!” Tersentak. Tanpa sadar air mataku keluar. Secepatnya aku berlari dari ruang tamu. Aku masuk ke kamar. Pintu kukunci dengan rapat. Aku jatuhkan diriku di atas kasur, kutarik selimut sampai menutupi kepalaku. Lalu aku menangis di dalamnya. *** Uh, ja...