Hari ini adalah hari pembagian
raport. Mama memintaku untuk menemaninya ke sekolahku. Karena penasaran, aku intip raportku dan.. WHAT?!
APA INI? Kenapa nilaiku banyak yang dapat C?? Ini sungguh tidak masuk akal! Apa
jadinya orang tuaku kalau tahu hal ini? Hiks.
***
“Plak!”
satu serangan. Telapak tanganku mengusap pipiku yang terkena tamparan.
“Cukup
tamparan saja. Mama gak mood buat
marah-marah. Percuma. Toh, sudah terjadi. Sebagai gantinya, Mama akan
ngebatalin reservasi vilanya. Jadi kamu nggak perlu repot ngurus ini-itu.
Bilangin ke temen-temenmu, liburan di rumah aja, belajar!” kata Mama dengan
tegas.
“Gak
bisa gitu dong, Ma! Aku kan udah janji ke mereka..”
“BATALIN,
HELENA!”
Tersentak.
Tanpa sadar air mataku keluar. Secepatnya aku berlari dari ruang tamu. Aku
masuk ke kamar. Pintu kukunci dengan rapat. Aku jatuhkan diriku di atas kasur,
kutarik selimut sampai menutupi kepalaku. Lalu aku menangis di dalamnya.
***
Uh,
jam berapa ini? Oh, tidak. Kenapa mataku sulit dibuka? Sembap. Oh aku baru
ingat, aku menangis sampai tertidur.
Aku
turun dari tempat tidur. Mencari tas sekolahku lalu menggeledah isinya untuk
mengambil handphoneku. Tampak notifikasi 4 missed call dan 13 messages. Empat panggilan dari orang yang berbeda. Semuanya dari
para sahabatku. Yah, mungkin mereka terlalu khawatir. Dari group chat, aku mengumumkan bahwa kita tidak jadi berlibur di vila. Namun, tanggapan dari mereka sungguh di luar dugaan. Ternyata mereka menelponku karena
menolak ajakanku. Bayangkan! Semua menolak. SEMUA. Ada yang pergi bersama
keluarga, pulang kampung, kedatangan saudara jauh, dan alasan sejenisnya. Oh,
malangnya nasibku. Aku menduga, liburan kali ini akan membosankan.
Hari
beranjak senja. Aku juga belum mandi sore. Kenapa Mama nggak membangunkanku, sih? Hmm benar juga, mungkin Mama masih marah. Segera aku sampirkan handukku di
pundak dan berlari kecil ke kamar mandi.
Seusai
mandi, aku berjalan ke ruang makan. Kudapati Mama di sana, sedang menyiapkan
makanan.
“Duduk
dulu, Mut. Tunggu Papamu selesai ganti baju, baru kita makan ya."
Apa-apaan
ini? Kenapa Mama bicaranya lembut? Kenapa aku dipanggil Cimut lagi dan bukan
nama asliku? Mama udah ga marah? Huh, curang. Padahal aku masih kesal setengah
mati. Yah, begitulah. Aku dipanggil Cimut di keluarga ini. Panggilan sayang, katanya.
Aku bisa menebak Mama sedang marah atau tidak dari cara beliau memanggilku.
Mama memanggilku Helena ketika aku membuatnya marah atau kesal. Baiklah,
kembali ke cerita. Dengan malas, aku duduk di depan Mama. Tak lama kemudian, Papa datang dan langsung menduduki kursi di sebelahku. Lalu, kami makan bersama
dalam keheningan.
Biasanya
selesai makan, kami berbincang-bincang atau melakukan diskusi keluarga. Tapi
hari ini aku sedang malas. Jadi selesai makan, rencananya aku langsung
beranjak. Tapi nyatanya, baru saja aku berdiri, pergelangan tanganku dicengkeram
Papa. Aku jadi mengerti. Tumben-tumbennya Papa duduk di sebelahku dan bukan
di sebelah Mama? Harusnya aku sadar sejak awal. Dengan terpaksa, aku duduk
kembali.
“Papa
sama Mama belum selesai makan, loh. Kita juga biasanya omong-omongan dulu, kan?
Lupa ya..” ujar Papa. Aku hanya menghela napas.
“Oh
iya, Mut. Papa udah siapin kegiatan buat kamu liburan, loh! Pasti menyenangkan!”
antusias Papa.
“Nggak
tertarik,” kataku malas.
“Hah?!
Uhuk-uhuk..!!” Papa tersedak. Mama langsung heboh menenangkan Papa. Kemudian
dengan terhuyung-huyung Papa menuju kamar mandi.
“Akhir-akhir
ini Papa sering tersedak,” kataku tidak penting.
Mama
menoleh menatapku. Lantas Mama berkata, “Sebenernya ada yang kami sembunyiin dari kamu, Mut. Maafin
Mama ya.”
Oh
bagus, sekarang kalian malah main rahasia-rahasiaan.
“Apa?”
tanyaku.
“Hm?
Apa?” tanya Mama bingung.
“Apa
rahasianya?” tanyaku lebih jelas.
“Ah,
tidak. Ini kejutan. Nanti kamu juga akan tau,” kata Mama sambil tersenyum.
Sebelum aku bertanya lagi, Papa sudah datang.
“Ehem,
maaf ya. Yuk, kita lanjutkan lagi. Mut, selama liburan, kamu dapat tugas. Jadi
gini, Papa punya kenalan. Nah, beliau punya usaha kerajinan. Bantuin, gih,” jelas
Papa.
Mama
melanjutkan, “Iya sayang. Di sana juga banyak pekerja, kok. Kamu bisa belajar dari
mereka. Ya? Lumayan loh, dapet duit.”
Aku
bengong. Jadi ini kejutan untukku? Aku? Kerja? Yang benar saja...
“Gimana, Sayang? Mau kan?”
Setelah
berpikir dengan matang, aku putuskan, “Boleh deh. Lumayan dapet duit.”
***
Hari
pertamaku bekerja. Berhubung aku tidak tahu-menahu tentang kerajinan, aku
sering dimaki si Bos (kenalan Papa). Huh, menyebalkan. Oh iya, ngomong-ngomong,
Papa menyuruhku untuk aku menginap di rumah Bos. Kata Papa biar aku lebih
deket sama keluarga mereka. Aku sih no
problem, karena kupikir mereka baik. Tapi setelah bertemu seharian dengan
Bos yang seperti ini.. cape deehh.
Hari
keduaku, tak jauh beda dari hari pertama. Bukannya aku terlalu bodoh, ya, tapi
si Bos ini terlalu cerewet. Benar-benar orang yang perfeksionis.
Hari-hari
berlalu. Hingga sampai di hari Jumat. Tidak terasa, aku semakin ahli saja. Si Bos
sudah jarang marah padaku. Dan sebenernya, si Bos itu orang yang baik. Hari ini
aku boleh pulang dan aku mendapat gaji pertamaku.
***
“SELAMAT
DATANG!” teriak Papa-Mama ketika aku baru saja menutup pintu.
“Oh,
Tuhan..” gumamku lirih. Ada apa sebenarnya? Dinding-dinding dihiasi berbagai macam warna
pita. Dan lihat itu, langit-langit yang dipenuhi balon. O-ow, tunggu dulu, ada
yang lebih penting. Ada kue tart di meja ruang tamu! Bertuliskan namaku pula!
“Tenang
aja, Mut. Kami masih ingat kok, hari ini bukan hari ulang tahunmu. Ini sebagai
perayaan kedatanganmu saja,” kata Papa mewakilkan.
Aku
menghela napas lega. Kemudian kami bersenda
gurau bersama.
Malamnya
saat kami berbincang-bincang, Mama dan Papa mengejutkanku. Papa berkata,
"Nah, Mut. Besok kita belanja buat perbekalanmu, oke?"
"Lah, emang aku mau ke mana, Pa? Kan kerjanya hari Senin," tanyaku bingung.
"Udah,
kerjamu sudah tuntas."
"Lho, tapi libur sekolahku kan masih ada seminggu lagi," potongku.
"Iya, makanya dengerin dulu. Jadi gini, Mama sama Papa udah ngerencanain ini dari
awal. Kakak sepupumu yang di Solo itu mau ngunjungin kakaknya yang pindah rumah ke Mataram.
Papa udah bilang sama mereka dan kamu boleh ikut," jelas Papa.
Mama
melanjutkan, "Cimut pasti mau dong, kan Mama sering liat matamu
berbinar-binar tiap kali nonton acara TV yang my trip.. my trip.."
"My Trip My Adventure, Ma," Papa membenarkan.
"Iya yang itu," ujar Mama seraya tersenyum.
Mulutku
terkatup rapat. Kedua mataku berkaca-kaca saking bahagianya. Aku merengkuh bahu
Mama-Papa lalu kudekap erat keduanya.
***
Hari
itu telah tiba, hari aku pergi ke Lombok. Persiapanku sudah cukup matang, aku
sudah memborong berbagai macam camilan untuk persediaan selama di kapal.
Mama-Papa cuma memberi uang untuk tiket kapalnya, sedangkan sangunya, dari
gajiku selama bekerja pada kenalan Papa.
Aku
naik kapal Legundi, berangkat dari pelabuhan Perak ke pelabuhan Lembar. Kapal ini baru
dibuat, sebelumnya, harus melewati Bali dulu. Perjalanannya memakan waktu sekitar
20 jam yang sebagian besar aku gunakan untuk tidur. Aku berangkat dari Surabaya sendirian,
karena kakak sepupuku yang kedua berangkat dari Solo naik pesawat.
Hari
Selasa sesampainya di pelabuhan, aku dijemput oleh kakak sepupu pertama, lalu
kami menjemput adiknya yang mendahuluiku di pantai Senggigi. Kemudian, kami
makan malam bersama.
***
Hari
Rabu, kami berwisata ke Gili Trawangan. Kami habiskan waktu kami di sana. Esok
harinya, kami pergi ke Sasaku, tempat untuk beli oleh-oleh khas Lombok.
Kemudian, dilanjut pergi ke Desa Sade. Desa Sade ini adalah desa yang hanya dihuni oleh
suku Sasak, karena mereka berprinsip 'menikah dengan sesama suku'. Penduduk
desa ini diperkirakan mencapai 700 jiwa. Desa Sade itu unik, karena semua rumah
mereka adalah rumah adat yang disebut Bale Tani. Dindingnya berasal dari kayu
dan atapnya terbuat dari daun alang-alang dan beralas tanah liat. Mata
pencaharian mereka adalah bertani padi dan kedelai, tetapi tidak untuk dijual. Mereka
bertani untuk kebutuhan hidup mereka sendiri. Sedangkan si ibu rumah tangga, biasanya
menenun untuk membantu penghasilan. Pokoknya, sangat mengesankan. Kemudian,
kami main-main ke pantai Tanjung Aan, dilanjut ke pantai Kuta, dan mengunjungi pantai lainnya.
Hari
Jumat, kami cukup berkunjung ke Taman Narmada yang konon katanya terkenal
dengan air yang bisa membuat awet muda ketika dibasuh ke wajah.
Sabtu
dini hari, kakak sepupu keduaku pulang ke Solo. Tapi sebelum itu, ia main ke
Bali dulu. Sedangkan
aku, pulang sore harinya, langsung ke Surabaya.
Huft.
Rasanya susah sekali untuk meninggalkan tanah Lombok. Mengapa hari cepat sekali berlalu? Yah, meski kurang puas, mau tak mau
aku harus kembali pulang. Selamat tinggal Lombok, akan aku simpan kenangan
indah tentangmu.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar