Pagi itu, sang mentari tampak
malu-malu menampakkan dirinya. Jarak antara sekolah dan rumahku cukup dekat,
jadi aku cukup berjalan kaki sembari bersiul kecil untuk sampai ke sekolah.
Bukan apa-apa, aku hanya senang karena tahun ajaran baru telah dimulai. Apalagi
ketika mengetahui bahwa sebagian besar teman-teman semasa SMP diterima juga di
SMA favorit kawasan itu. Saat SMP, aku membuat persahabatan. Kami beranggotakan
lima orang, yaitu aku, Tiwi, Mia, Santi, dan Wedy. Tetapi sayangnya, Santi dan
Wedy memutuskan untuk melanjutkan sekolah di tempat lain.
Sesampainya di kelas, aku langsung bergabung bersama teman-teman baruku dan pelajaran pun dimulai. Hari demi hari berlalu. Minggu demi minggu berganti. Dan pada suatu hari, hari Jumat sepulang sekolah, aku mampir ke kantin bersama salah satu teman sekelasku bernama Manda dan salah satu teman SMP-ku yang bernama Fitri. Manda dan Fitri wajar belum pulang karena mereka sama-sama mengikuti ekstrakurikuler teater. Sedangkan aku hanya menemani mereka hingga ekskul teater dimulai.
Sesampainya di kantin, ada satu anak cowok sedang duduk sendiri dan kebetulan juga mengikuti ekskul teater. Jadi kami bertiga menuju ke tempat cowok tersebut. Sejenak aku mengamati, sepertinya aku sudah tidak asing melihat wajah cowok itu.
“San, dia ini lho yang namanya Surya,” goda Fitri padaku.
Karena
Fitri teman SMP-ku, ia cukup mengenalku. Fitri sudah paham kalau aku orangnya
gampang salah tingkah, sekalipun pada orang yang baru dikenal.
Beberapa menit telah berlalu,
ekstrakurikuler teater dimulai. Akhirnya kami berempat meninggalkan kantin.
Fitri dan Manda berjalan duluan di depan, sedangkan aku dan Surya menyusul di
belakang. Tetapi baru beberapa langkah, tiba-tiba kaki kananku masuk ke
selokan. Seketika aku mencengkeram tas Fitri yang ada di depanku. Namun nahas,
kaki Fitri tidak kuat menahan tubuhnya dan kemudian kami jatuh bareng.
Saat itu, Surya dengan sergap mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Ia juga berkata, “Luruskan kakinya”.
***
Berminggu-minggu telah berlalu. Aku baru menyadari mengapa pada saat pertama kali bertemu Surya, aku merasa sudah lebih dulu mengenalnya. Ternyata, Surya dulunya pernah dekat dengan salah satu sahabatku saat SMP, yaitu Wedy. Aku baru ingat dulu Wedy pernah menunjukkan foto Surya padaku dan sahabat-sahabatku yang lain. Tapi kini, entah kenapa bayangan Surya memenuhi isi kepalaku. Dan hari itu, aku menyadari satu hal. Aku telah jatuh cinta.
“Ayo cepet jadian sama Surya. Kalian kan memiliki nama yang artinya sama. Sanny dan Surya, dua matahari. Pasti cocok!” cecar Manda dengan semangat.
“Sudahlah, Man..” kataku menahan malu.
Aku dan Manda memang selalu pulang bareng berjalan kaki kalau dia tidak ekskul. Ketika sudah setengah jalan dari sekolah, ada kerumunan orang berdiri di tengah jalan raya. Aku dan Manda segera menghampiri. Ternyata ada seorang cowok yang mengalami kecelakaan tabrak lari. Dan cowok yang terbaring berlumuran darah tersebut adalah cowok yang kemarin baru saja membuatku jatuh cinta.
TAMAT
Kerennnnn bangettt kak. Suka dehhhh... Bikin yg banyak dongg
BalasHapus