“Pada zaman dahulu di suatu suku bangsa, banyak rakyat
yang mata pencahariannya sebagai kuli. Salah satunya yang sudah berumur,
bernama Bowo. Nah, Pak Bowo ini lama-kelamaan nggak kuat karena terus-terusan
berkeringat akibat cuaca yang begitu panas. Lalu dia mengadu ke Kepala Suku.
Pak Bowo berkata, ‘Maaf pak Kepala, tapi sepertinya karena ulah kakek buyut
Bapak yang membuat percobaan pada suatu waktu, bumi ini menjadi semakin panas’
jelas Pak Bowo..” cerita seorang wanita.
Wanita itu melanjutkan, “Kepala Suku yang tidak terima
anaknya dituduh, langsung protes, ‘Hah?! Apa yang telah diperbuat kakek buyut
saya? Dari mana kau tahu? Lalu apa akibatnya?’. Kemudian, Pak Bowo menjawab,
‘Tolong tenang dulu Pak. Saya tidak bermaksud menuduh. Saya membaca buku, Pak.. Coba
perhatikan langit, Pak. Apa Bapak tidak sadar? Matahari ada 2, berwarna putih
dan kuning, mereka bergantian bersinarnya. Bagaimana jika kita hancurkan saja
salah satunya?’ usul Pak Bowo. Kepala Suku terlihat menimbang-nimbang. ‘Ooh..
Saya baru tahu. Yah, baiklah. Siapkan beberapa tombak dan ketapel dalam gudang
rahasia. Saya akan memanggil warga’ ucap Kepala Suku akhirnya. ‘Siap, Pak
Kepala!’
Akhirnya setelah warga terkumpul, para pria membawa
tombak yang siap diluncurkan menggunakan ketapel. Matahari yang saat ini
berwarna kuning. Ketapel siap dilepaskan, ‘1.. 2.., 3! Ting. DUARR!!’ tombak
mengenai matahari kuning.
Matahari tersebut kemudian meledak, menjadi beberapa
potongan kecil di atas sana. Seketika langit menjadi gelap, hitam pekat. Tapi
setelah itu tidak terlalu gelap, karena ada secercah cahaya. Kamu tahu itu apa?
Itu adalah sinar dari beberapa potongan matahari kuning. Kepala Suku dan
rakyatnya kemudian menyebut potongan-potongan tersebut dengan sebutan bintang. Dan hari itu adalah hari dimana mereka
mengetahui apa yang disebut malam. Malam yang pertama dalam kehidupan mereka..” wanita itu selesai bercerita,
lalu ia menutup buku dongeng yang dipegangnya. Kemudian ia berbisik, “Selamat
malam, sayang” di telinga kanan seorang gadis yang tengah tertidur lelap.
***
Ah, mimpi itu lagi. Kenapa aku memimpikan itu setiap malam? Siapa sebenarnya wanita pembaca dongeng itu? Dan apa hubungannya dengan buku dongeng itu?
Dulu, sekitar dua belas tahun yang lalu, aku punya buku dongeng itu. Tapi kini, aku tidak tahu pasti keberadaannya. Sudahlah, lebih baik aku segera bersiap ke sekolah.
Komentar
Posting Komentar